“Untuk Seorang Ayah”

28 Juni 2014 1 komentar

Mungkin ibu lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?

Semasa kecil, ibukulah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena saking letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku. Saat aku sakit demam, ayah membentakku “Sudah diberitahu, Jangan minum es!” Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis didepan ibu. Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata “Tidak boleh! ”Sadarkah aku, bahwa ayahku hanya ingin menjaga aku, beliau lebih tahu dunia luar, dibandingkan aku bahkan ibuku? Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku sudah dipercayai olehnya, ayah pun melonggarkan peraturannya.

Maka kadang aku melanggar kepercayaannya. Ayahlah yang setia menunggu aku diruang tamu dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa teman untuk menanyakan keadaanku, ”dimana, dan sedang apa aku diluar sana.” Setelah aku dewasa, walau ibu yang mengantar aku ke sekolah untuk belajar, tapi tahukah aku, bahwa ayahlah yang berkata: Ibu, temanilah anakmu, aku pergi mencari nafkah dulu buat kita bersama.

Disaat aku merengek memerlukan ini – itu, untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, kemana harus mencari uang tambahan, padahal gajinya pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam.

Saat aku berjaya. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Ayahlah yang mengabari sanak saudara, ”anakku sekarang sukses.” Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itu pun cuma setahun sekali. Ayah akan tersenyum dengan bangga.

Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan doanya ibu, cuma bedanya ayah simpan doa itu dalam hatinya. Sampai ketika nanti aku menemukan jodohku, ayahku akan sangat berhati – hati mengizinkannya.

Dan akhirnya, saat ayah melihatku duduk diatas pelaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia. Lantas pernahkah aku memergoki, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis? Ayah menangis karena ayah sangat bahagia. Dan beliau pun berdoa, “Ya Allah, tugasku telah selesai dengan baik. Bahagiakanlah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya.

”Pesan ibu ke anak untuk seorang Ayah”

Anakku..
Memang ayah tidak mengandungmu,
tapi darahnya mengalir di darahmu, namanya melekat dinamamu …
Memang ayah tak melahirkanmu,
Memang ayah tak menyusuimu,
tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu …

Nak..
Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,
tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya …
Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…

Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaanya dia takut tak sanggup melepaskanmu…
Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri..

Bunda hanya ingin kau tahu nak..
bahwa cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda..

Anakku…
Didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu.

Sumber: Kang Maman “ILK“

Surat untuk Anakku

21 Juni 2014 Tinggalkan komentar

Assalamualaikum, anakku..

Semoga disana kabarmu baik-baik saja.

Disiang yg begitu terik ini, ayah ingin mengabarimu lewat surat. Sengaja ayah kirimkan agar lepas rindu di hati.

 

Anakku, teringat ayah ketika setiap pagi ayah membangunkanmu dari tidurmu lalu dengan tersenyum lucu engkau menyapa ayah dengan bahasamu meski ayah tak mengerti waktu itu, kemudian ayah memandikanmu dan engkau begitu kedinginan dengan air yg ayah guyurkan ke tubuh mungilmu.

 

Anakku, engkaupun begitu ceria ketika kita menyeruput kopi susu yg sebenarnya belum boleh engkau minum di usiamu, namun secara diam-diam engkau memelas kepada ayah dan meminumnya seteguk seukuran mulut kecilmu.

 

Anakku, begitu banyak perjalanan yg kita lalui bersama, sedari pagi arah ke tempat ayah bekerja hingga ketika sore menjelang malam ayah menjemputmu.

Baca selanjutnya…

Melupakan Kenangan Pahit

10 Mei 2014 Tinggalkan komentar

Intisari-Online.com – Dalam perjalanan hidup, kita pasti pernah mengalami kejadian pahit, meski cuma sekali. Tidak sedikit di antara kita dengan mudah lari dari kenangan buruk itu.

Namun, banyak pula yang sulit melupakannya. Akibatnya, kita menjadi pemuram dan tidak bahagia, yang selanjutnya mendatangkan kesulitan-kesulitan baru.

Kenangan pahit tadi sebenarnya bukanlah suatu hal yang tidak bisa diatasi. Perlu tekad kuat untuk meninggalkannya di belakang. Berikut beberapa kiat untuk mengatasinya:

1. Mengubah fokus. Ini bisa dilakukan dengan melibatkan diri secara total pada kegiatan-kegiatan dan minat-minat baru atau bergabung dengan teman-teman yang ceria, bahagia, humoris, dan optimis. Dengan cara tersebut, perhatian kita tercurah pada kegiatan atau  minat baru. Kita juga bisa “tertulari” keceriaan, kebahagiaan, dan keoptimisan mereka.

2. Menghindari pemicu yang mengingatkan kita pada kenangan pahit yang pernah kita alami, misalnya tempat-tempat, pakaian, atau kata-kata tertentu.

3. Doa dan meditasi. Jika kegiatan ini dilakukan dengan serius dan konsisten, kita bisa terbebas dari luka-luka batin masa lalu.

4. Menolong orang lain mengatasi persoalan mereka. Dengan melakukan itu, secara tidak langsung kita juga dapat tertolong dalam menghadapi masalah atau kesulitan kita sendiri.

Artikel ini ditulis di Majalah Intisari edisi Oktober 2000 dengan judul asli “Melupakan Kenangan Pahit”

Filosofi Ulang Tahun

7 Mei 2014 1 komentar

JIKA kita ditanya mengenai hari lahir kita, dapat dipastikan kita akan dengan fasih menjawab tanggal sekian, bulan sekian, dan tahun sekian. Pun jika ditanya apakah setiap tanggal itu kita merayakannya, mungkin sebagian besar kita akan menjawab dengan mantap, “Ya!” Bagaimana mungkin momen sepenting hari lahir kita lupakan dan kita biarkan begitu saja?

Yap, setiap tahun kita mengenang hari lahir kita dengan merayakannya. Di antara kita ada yang merayakan ulang tahun dengan pesta kecil-kecilan yang sederhana. Ada pula yang menghelat pestanya secara besar-besaran di hotel yang mewah. Semua itu dilakukan hanya untuk satu hal: demi menjaga memori individual atas awal kehadiran kita di dunia ini.

Pesta pun dihelat. Undangan disebarkan. Sajian dihidangkan. Lilin di atas tart yang membentuk angka usia ditiup, diiringi dengan lantunan lagu Happy Birthday to You oleh kerabat dan teman-teman. Akhirnya mereka pun menyalami kita sembari memberikan ucapan selamat ulang tahun. Pesta berakhir. Selanjutnya, apa?

Banyak di antara kita yang lupa—atau sengaja melupakan—substansi dan filosofi ulang tahun. Kebanyakan kita hanya terjebak pada selebrasi dan seremoni yang bersifat formal. Gegap-gempita pesta ulang tahun tak cukup mampu menghadirkan makna kepada diri kita.

Ulang tahun pada hakekatnya adalah pengingat bagi kita bahwa seiring berjalannya waktu, usia kita kian bertambah. Dengan bertambahnya usia, seyogyanya kedewasaan, kearifan, dan pengetahuan kita akan hakekat kehidupan kian meningkat. Pada gilirannya semua itu hendaknya menjadikan kita lebih bijak dalam menjalani dan menyikapi tetek-bengek kehidupan ini.

Ulang tahun juga merupakan “warning” bagi kita bahwa jatah hidup kita di dunia ini semakin berkurang. Misalnya saja kita ditakdirkan hidup hingga usia 65 tahun. Jika hari ini kita berulang tahun ke 17, berarti kita masih memiliki jatah hidup selama 48 tahun. Di tanggal yang sama tahun berikutnya jatah hidup kita berkurang menjadi 47 tahun. Demikian seterusnya.

Dengan jatah hidup yang kian berkurang itu, sudah adakah kemajuan dan perkembangan yang kita capai dalam segala hal? Atau apakah kita masih gini-gini aja sama seperti tahun-tahun yang lalu? Seorang bijak mengatakan bahwa seseorang dapat dikatakan beruntung apabila hari ini dia memiliki pencapaian yang lebih baik daripada hari sebelumnya. Sebaliknya, apabila hari ini sama saja dengan kemarin berarti dia merugi. Bahkan apabila hari ini dia lebih jelek dari kemarin, maka dia telah merusak. Ungkapan ini menyiratkan bahwa kualitas kehidupan kita selayaknya meningkat dari hari ke hari.

Dengan berkurangnya jatah hidup kita, sudah adakah kontribusi yang kita berikan kepada keluarga, lingkungan sekitar, dan bangsa-negara? Atau apakah kehadiran kita dalam sebuah masyarakat tidak memberikan arti dan sumbangan apapun kepada mereka? Sebagai makhluk sosial, alangkah sayangnya jika itu terjadi. Sebab, ungkapan menyatakan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang banyak memberikan kontribusi dan kemanfaatan bagi masyarakatnya.

Nah, apakah kualitas kehidupan kita telah meningkat dari waktu ke waktu? Apakah kita telah berkontribusi terhadap keluarga dan masyarakat seiring bertambahnya usia kita? Hari ulang tahunmu nanti merupakan momen yang tepat untuk melakukan evaluasi, refleksi, dan tentunya aksi! [*]

Tulisan ini pernah dimuat di harian Suara Merdeka edisi 7 Maret 2010.

Sumber:
http://www.tamanhikmah.blogspot.com

Berbeda untuk menjadi Istimewa


Mencoba untuk menjadi seseorang yang berbeda dalam tatanan kehidupan yang penuh persaingan ini bukanlah sebuah kesalahan.  Patut dihargai bila hal ini dilakukan sebagai sebuah usaha agar ia menjadi seseorang yang istimewa. Tentu saja, “berbeda“ disini jangan dilihat dari satu sisi saja, cobalah fahami dari sisi yang tidak biasa.

Beberapa orang yang melakukan hal-hal dengan cara yang berbeda dan kemudian menapaki tangga keberhasilannya dengan cara tersebut, justru mampu menginspirasi sesama dan sebagai ganjarannya mendapatkan tempat yang istimewa. Pemikiran dan ide-ide inovatif mereka yang berani tampil beda ini mampu mengubah paradigma lama yang mendarah daging dalam tatanan pemikiran masyarakat biasa. Jadi, pantas saja hal ini membuat nama mereka abadi dan dikenang atas karya mereka yang sarat dengan filosofi “berani beda“ tersebut.

Menjadi berbeda tidak serta merta membuat kita menanggung dosa. Menjadi berbeda dengan melakukan cara-cara yang tidak biasa dengan penuh keyakinan yang kuat, akan menghantarkan kita untuk menjadi orang yang luar biasa, jangan pernah bertanya kapan waktunya, lakukan saja dan buktikan dengan hasil nyata sebagai jawabannya.

Filosofi Bambu


Cobalah berjalan ketika ada waktu luang dan perhatikanlah bila menemukan pohon bambu, mungkin tidak mudah untuk menemukannya saat ini, apalagi dipinggir jalanan di tengah kota,  karena dgn alasan estetika,  banyak pohon bambu yg dibabat dan ditebang dan digantikan dgn palem atau cemara. Rumpun bambu justru banyak ditemukan di pinggiran kota, pelosok desa atau di pesisir sungai. Kalaupun ditengah kota kita bisa temukan ada rumpun bambu yg tertata rapi dan menjadi pagar hidup di sebuah rumah mewah, yakinlah tentu sang empunya rumah punya alasan khusus mengenai bambu yg ditanam dipagar rumahnya, tentu saja ini terkait dgn filosofi bambu itu sendiri.

Tidak banyak yg menyadari, bahwa rumpun bambu tersebut mendatangkan suara yg memiliki manfaat ketika disapu angin, desis panjang rumpun bambu yg saling beradu memberikan nuansa ketenangan bagi jiwa-jiwa anak cucu adam yg galau, hati para hamba pemburu cinta yg tercabik karena urusan dunia yg tak kekal.

Ada filosofi yg terkandung dari sebuah pohon bambu. Bila ia dihempas angin, maka perhatikan ketika batangnya membungkuk dan mengayun mengikuti arah angin yg menyapunya. Tidak satupun batang-batang bambu tersebut tegak dan menentang angin yg datang, melainkan akan semakin membungkuk dan meliuk-meliuk bila terpaan anginnya makin kuat, dan tak ada satupun batangnya yg pecah. Dan itu terbentuk sejak sang batang bambu tsb masih berupa sebatang kecil bakal bambu, bertahun-tahun hingga menjadi rumpun bambu yg besar.

Lalu apa hubungannya dengan hidup ini? Banyak!

Tak banyak yg mau belajar dari sebatang bambu. Ketika masalah hidup datang bertubi-tubi, apa yg dilakukan banyak orang? Bukannya semakin “membungkukkan diri“ dihadapan Sang Khalik yg menggelar kesusahan itu dihadapannya, malah sibuk mencari seribu alasan pembenaran dirinya sendiri dan menyalahkan diluar dirinya, malah menyesali hidupnya yg salah, malah menyesali kesulitan yg menerpa, bahkan menyesali Sang Khalik yg sesungguhnya pada saat itu justru sedang mengajarkan “sesuatu“ agar ia mengerti banyak hal, bahwa “kita tak akan selalu mendapatkan apa yg kita inginkan, tak selalu yg kita inginkan adalah sesuatu yg baik buat kita, tak selalu harapan kita menjadi kenyataan, bahkan kesulitan yg mendera kita bertubi-tubi menghujam-tanpa ampun-menghancurkan semua yg bertahun-tahun kita bina.“

Dengan lelaku batang bambu, sejatinya kita melakoni hidup “membungkuk“ agar hidup itu sendiri tidak “pecah, berderai. “ Membungkuk adalah mengalah, membungkuk adalah mengaku salah, membungkuk adalah mengevaluasi kesalahan, membungkuk adalah menginstrospeksi kesalahfahaman dan keras hati, sehingga ia “tidak pecah“ dan menyisakan “luka“ yg tak kunjung sembuh dikemudian hari.

Membungkuklah seperti bambu bila tak ingin pecah. Bila sudah pecah, tak ada lagi yg bisa diperbuat selain memungut serpihan-serpihan kecil yg berserakan tersebut, menyapunya sampai tak tersisa, membuangnya ke keranjang sampah dan hanya menyisakan debu yang tak berguna.

Tidak mudah menjadi baik

27 April 2014 Tinggalkan komentar

Tidak mudah menjadi orang baik yg ideal, yang semuanya serba baik, atau direratakan masuk dalam kategori baik. Tidak baik juga utk diam dan jadi orang yg tidak punya kebaikan atau malah jatuh ke jurang keburukan yg dalam, apalagi tidak sempat untuk naik dan membersihkan diri dari proses beguling-guling ke jurang tersebut. 

Tentu tidak semua orang memiliki “jurang keterpurukan“ yang sama namun yang pasti akan tersisa bekas ruam,  entah itu cacat perasaan atau pemikiran atau dua-duanya, selama hal itu bisa diobati dengan penerimaan atas segala apa yang terjadi dengan penuh ikhlas, tentu akan ada proses positif yg akan membentuk pribadi yg jatuh dan terguling tadi (itupun dengan catatan yang bersangkutan bisa bangkit dari jurang keburukan penuh kegagalan tersebut dan mau memperbaiki diri).

Tidak mudah menjadi baik, tapi lebih baik memperbaiki apa yang sudah terjadi sebelum terlambat dan mati. Semua kembali kepada Ilahi Rabbi. Laa haulawalaa quwwata illaabillaahil aliyil adzim. 

 

Butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar bangkit dari proses jatuh dari tempat yang sangat tinggi, wallahu’allam bissawwab masih bisa nulis lagi hari ini,  Alhamdulillah masih ada waktu memperbaiki satu demi satu yg hancur berkeping-keping, entahlah Ya Allah.